Batasan-batasan yang dulunya begitu kentara, sekarang lambat laun sudah mulai memudar. Batasan teritorial negara bahkan bukan lagi isu besar seperti di masa lampau. Dengan terintegrasinya teknologi informasi ke dalam perekonomian, kita sudah memasuki babak baru yang disebut sebagai era new economy. Tak pelak, kompetisipun menjadi semakin ketat. Pesaing kita bukan hanya orang yang duduk di sebelah kita, tapi kita juga bersaing dengan orang yang ada di belahan dunia lain. Bila kita tidak berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, maka bukan tidak mungkin kita hanya menjadi penonton di kancah globalisasi sementara orang lain menjadi pelaku yang aktif dan kreatif membawa banyak perubahan berarti.
Lebih luas lagi, dalam tataran negara, globalisasi dengan tegas menuntut hadirnya sumber daya manusia yang siap bersaing dalam kompetisi global. Kita tidak lagi hanya bermain di kandang sendiri sementara banyak orang sudah bicara masalah hubungan internasional. Namun demikian yang menjadi pertanyaan adalah apakah sesungguhnya kita sebagai negara memiliki daya saing yang cukup pada masa ini.
Word Economic Forum baru-baru ini mengeluarkan laporan tentang indeks pertumbuhan daya saing negara-negara di dunia atau yang dikenal dengan GCI (Growth Competitiveness Indeks) melalui pendekatan terhadap 9 pilar penting pendukung diantaranya institutions, infrastructures, macroeconomy, health and primary education, higher education and training, market efficiencies, technological readiness, business sophistication, innovation. Berdasarkan data pada tahun 2006, laporan tersebut menyatakan bahwa Indonesia berada di urutan ke-50. Sementara itu, negara tetangga kita, Singapura berada di urutan ke-5 setelah Swiss, Finlandia, Swedia dan Denmark. Sungguh pencapaian yang luar biasa bagi negara Singapura.
Sebagai perbandingan, jumlah penduduk kita berdasarkan data tahun 2006 hampir mencapai 250 juta orang sementara Singapura hanya kurang dari 5 juta orang. Bicara pekerjaan, Singapura menjadi tujuan bagi para pencari kerja dari Indonesia. Namun tidak demikian sebaliknya dengan Indonesia. Ironis memang. Ada rekan yang bahkan pernah mengatakan demikian “Indonesia is famous for its cheap labor.” Kapan kita akan dikenal karena quality labor?
Mari kita lihat pula kepada kelompok yang tergolong usia produktif di Indonesia. Dapat kita bayangkan berapa banyak yang saat ini belum terserap ke dalam lapangan pekerjaan? Para lulusan dari pelbagai perguruan tinggi masih banyak yang menganggur. Apakah ini karena lapangan pekerjaan yang kurang atau lulusan yang kurang berkualitas sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan? Setiap tahunnya sekian banyak mahasiswa lulus dari perguruan tinggi dan ini menambah jumlah barisan pencari kerja. Kualitas lulusan juga masih pada tingkatan yang cukup memprihatinkan. Masih banyak diantara mereka yang belum memiliki skill yang cukup untuk bersaing di dunia kerja. Sebut saja yang sederhana seperti kemampuan berbahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang menjadi prasyarat penting di dunia kerja. Berapa banyak yang benar-benar mampu berbahasa Inggris dengan baik? Seorang pengusaha pernah mengatakan demikian “If you want your business to be global, English is a must.” Belum lagi ditambah dengan mereka yang tidak dapat mengenyam pendidikan bahkan sampai pendidikan dasar sekalipun. Persoalannya memang sangat kompleks. Tentunya ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, semua pihak, segenap bangsa Indonesia.
“Without a doubt, the quality of our human resource determines our competitiveness in the market.” Agar dapat menjadi kompetitif atau memiliki daya saing yang tinggi, tak ayal lagi barisan SDM yang kita miliki harus berkualitas baik. Definisi berkualitas baik menyangkut aspek-aspek pendidikan, sikap, profesionalisme, inisiatif, inovasi, dan lain sebagainya.
Lalu pertanyaan lebih lanjut adalah bagaimana kita dapat mengoptimalkan kualitas SDM kita? Sekarang mari kita lihat apa yang dapat dilakukan untuk membenahi kualitas SDM yang ada di Indonesia. Dengan tidak hanya sekedar menyelesaikan permasalahan tapi juga dapat melakukan transformasi seutuhnya, maka saya melihat pentingnya kita melakukan pendekatan transformasi Mindset dan Management secara efektif.
Mindset & Management Transformation
If you change your mindset, you change your life. Perlu ada sebuah perubahan pola berpikir. Mentalitas bangsa perlu ditransformasi. Kita bicara pembangunan mental bangsa. Jepang adalah contoh yang luar biasa terutama bagaimana Jepang dapat keluar dari keterpurukan setelah bom di Nagasaki dan Hirosima. Jepang saat ini berhasil mensejajarkan dirinya dengan negara maju lainnya. Jepang sangat terkenal dengan mentalitas masyarakatnya yang dinilai sebagai pekerja keras. Bagaimana dengan kita?
Masyarakat kita perlu dibangun kembali optimismenya. Lewat langkah nyata pemerintah dalam memerangi kemiskinan dan memperbaiki kesehatan masyarakat, segenap lapisan lapisan masyarakat juga perlu dimotivasi dan diajak untuk bangkit dari ketertinggalan mereka. Sesungguhnya kita memiliki potensi yang luar biasa. Contoh sederhana. Prestasi yang ditorehkan oleh Tim Olimpiade Fisika Indonesia yang dimotori Prof. Yohanes Surya pada kompetisi tingkat internasional patut mendapat acungan jempol. Ini indikasi bahwa sesungguhnya kita memiliki potensi. Mereka yang tergabung dalam TOFI dipersiapkan secara khusus lewat pelatihan yang terpadu. Saatnya bagi kita untuk membuat breakthrough atau terobosan dalam cara kita berpikir dan cara kita bertindak. Suarakan pembaharuan, tindaklanjuti dengan program pembenahan mentalitas bangsa. Tidak ada ruang bagi mereka yang bermalas-malasan. Setiap orang harus sadar sepenuhnya bahwa mereka memiliki potensi dan dapat berkontribusi. Masyarakat yang berada di lapisan bawah diajak untuk membuang mental pengemis yang hanya bisa meminta-minta.
Selain transformasi pada mentalitas, kita juga perlu melihat terjadinya sebuah transformasi dalam pengelolaan banyak hal di negara kita agar menjadi baik dan benar. Pemerintah perlu lebih jeli dan berinisiatif membuat kerangka kerja yang lebih berorientasi pada peningkatan daya saing bangsa ini. Sementara pemerintah mempersiapkan kebijakan di bidang perekonomian dan pembangunan infrastruktur, pembangunan SDM harus terus bergulir dengan berbagai cara. Siapkan program yang dapat menyentuh lapisan bawah untuk berkarya. Bantu mereka agar dapat keluar dari kemiskinan. Pastikan bahwa mereka mendapatkan pendidikan yang baik. Lengkapi mereka dengan kemampuan untuk siap terjun ke lapangan pekerjaan. Di lapisan masyarakat yang lain, dukung penciptaan lingkungan yang kondusif dan mendorong terjadinya inovasi. Penelitian dan pengembangan harus semakin digalakkan untuk menelurkan lebih banyak inovasi.
Sistem pendidikan secara nasional harus lebih berorientasi pada pengembangan kualitas baik hard-skills maupun soft-skills. Pendidikan berbasis kompetensi yang sudah dimotori oleh pemerintah harus lebih nyata dalam prakteknya. Pemerintah harus berinisiatif dan memberi perhatian lebih serta memprioritaskan peningkatan kualitas pendidikan termasuk didalamnya peningkatan kualitas guru dan sarana serta prasarana pendidikan. Mereka yang terlibat di dalamnya sadar betul untuk bekerja dengan hati melakukan perubahan ini. Jangan lagi ada kolusi atau korupsi dalam bentuk apapun agar perubahan yang kita ingini dapat benar-benar terwujud. Bila programnya baik dan benar, dieksekusi secara baik dan benar pula, niscaya seluruh kita akan mendukung melakukannya dengan baik dan benar pula.
Right Mindset. Right Management. Right Transformation.
Let’s do it right!
Men Jung, MM
www.menjung.com